TUTORIAL

Senin, 02 Februari 2015

CATATAN PENGALAMAN PEMIMPIN



Kepemimpinan berasal dari kata pimpin yang memuat dua hal pokok yaitu: pemimpin sebagai subjek dan yang dipimpin sebagai objek. Kata pimpin mengandung pengertian mengarahkan, membina atau mengatur, menuntun dan juga menunjukkan ataupun mempengaruhi. Pemimpin mempunyai tanggung jawab baik secara fisik maupun spiritual terhadap keberhasilan aktivitas kerja dari yang dipimpin, sehingga menjadi pemimpin itu tidak mudah dan tidak akan setiap orang mempunyai kesamaan di dalam menjalankan ke-pemimpinannya.

Kepemimpinan hanya dapat dilaksanakan oleh seorang pemimpin. Seorang pemimpin adalah seseorang yang mempunyai keahlian memimpin, mempunyai kemampuan mempengaruhi pendirian/pendapat orang atau sekelompok orang tanpa menanyakan alasan-alasannya. Seorang pemimpin adalah seseorang yang aktif membuat rencana-rencana, mengkoordinasi, melakukan percobaan dan memimpin pekerjaan untuk mencapai tujuan bersama-sama. Salah satu
Definisi tentang kepemimpinan adalah suatu proses yang mempengaruhi aktifitas kelompok yang diatur untuk mencapai tujuan bersama (Rauch & Behling, 1984, 46).

Saya menilai kemampuan kepemimpinan saya di angka 90 dikarenakan adanya pengalaman-pengalaman dalam berbagai organisasi baik organisasi social maupun organisasi bisnis. Disamping kemampuan yang saya peroleh melalui pengalaman berorganisasi; kemampuan kepemimpinan saya juga berasal dari pelajaran teoritik dari bangku perkuliahan maupun berasal dari diklat-diklat kepemimpinan organisasi. Selama berorganisasi baik di organisasi social maupun bisnis, saya beberapa kali dipercaya oleh komunitas organisasi menjadi pemimpin (ketua Umum). Kepercayaan dari anggota komunitas organisasi tersebut tentunya bukan sesuatu yang mudah, artinya seseorang memilih pemimpin pasti mempunyai pertimbangan rasional, dan bagi seseorang yang dipilih menjadi pemimpin tentunya adalah orang-orang yang mempunyai prestasi dan kemampuan dalam kepemimpinan. Berdasarkan beberapa pengalaman kepemimpinan tersebut maka saya berpendapat bahwa saya mempunyai kemampuan kepemimpinan pada angka 90.

Beberapa Pengalaman dan Bukti tentang kemampuan kepemimpinan dapat saya sampaikan beberapa contoh diantaranya: Pada tahun 2001-2002 saya menjadi Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Malang Komisariat Mulla Shadra Universitas Islam Malang yang ke I. Sebagai Ketua Umum yang Ke I tentunya dihadapkan pada berbagai permasalahan internal organisasi. Hal yang paling rumit adalah bagaimana caranya bisa melakukan konsolidasi kepengurusan dan pengkaderan. Sebagai komisariat yang baru juga dihadapkan pada permasalahan Sumber Daya manusia yang tidak memadai karena banyak anggota komisariat yang pasif (tidak aktif) maupun semangat berorganisasi yang lemah. Sebagai seorang pemimpin maka langkah awal yang harus saya lakukan adalah melakukan pemetaan guna identifikasi potensi dan masalah menggunakan pisau analisa SWAT yaitu metode perencanaan strategis yang digunakan untuk mengevaluasi kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities), dan ancaman (threats) dalam suatu organisasi. Dengan berdasarkan identifikasi SWAT tersebut maka dapat dirumuskan langkah-langkah strategis guna mencapai tujuan organisasi. Permasalahan yang berupa ancaman yaitu masalah keaktifan pengurus dan anggota, sedangkan peluang atau potensi yang ada yaitu organisasi secara data anggota mempunyai banyak anggota yang masih berpotensi untuk aktif kembali. Keputusan yang saya ambil adalah saya harus melakukan upaya-upaya agar pengurus dan anggota bersedia aktif kembali. Pada konteks ini maka saya harus menggunakan gaya kepemimpinan yang efektif dan diterima umum. Maka saya terapkan gaya kepemimpinan partisipatif atau populistik yaitu gaya kepemimpinan dengan cara membaur dengan anggota organisasi dan hadir ditengah-tengahnya. Metode yang saya gunakan adalah metode blusukan atau berkunjung ke rumah atau kost-kostan pengurus maupun anggota dan menciptakan sebuah keakraban sambil mempengaruhi yang bersangkutan dengan tujuan organisasi. Dalam konteks pengambilan keputusan organisasi saya selalu mengedepankan prinsip musyawarah untuk mufakat. Berdasarkan pengalaman kepemimpinan Di organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) ini maka substansi kapasitas seorang pemimpin sudah terbukti yaitu: saya mampu mempengaruhi orang lain dan menggerakannya ke arah tujuan organisasi.

Pengalaman atau bukti kapasitas kepemimpinan saya adalah terkait dengan pekerjaan saya sebagai Tenaga Pendamping Masyarakat (TPM) atau konsultan program pemberdayaan masyarakat, dimana pekerjaan konsultan pemberdayaan adalah pekerjaan yang mengharuskan berada ditengah-tengah masyarakat dan hidup bersama komunitas masyarakat dan harus mampu transformasi pengetahuan dan kesadaran agar melakukan perubahan pola pikir dan pola laku. Ketidakberdayaan masyarakat pada umumnya disebabkan  oleh pola pikir yang salah sehingga tidak mampu mengetahui potensi dan masalahnya. Dalam bahasa Freire, dehumanisasi berarti keadaan dimana seseorang kurang dari manusia atau tidak lagi manusia (Freire dalam Naomi,1998; 434) yang terjadi sebagai bentuk ungkapan nyata dari proses alienasi dan dominasi karena eksistensi seorang individu menjadi kabur dan hilang disebabkan sempitnya pola pikir (Freire, 2000; 188).  Sebagai seorang konsultan pemberdayaan masyarakat tentunya kemampuan kepemimpinan merupakan kemampuan wajib dalam profesinya karena harus mampu mengakomodir semua kepentingan unsur-unsur masyarakat dan harus mempengaruhi tindakan yang berkepentingan menjadi sebuah kekuatan yang satu arah.

DEMOKRASI DAN KEPEMIMPINAN

Demokrasi merupakan sistem pemerintahan yang dinilai paling bermartabat dibanding dengan sistem pemerintahan lainnya. Hal ini dikarenakan demokrasi menegaskan prinsip-prinsip kesamaan hak dan kewajiban di bawah hukum sehingga adanya penghormatan terhadap Hak Asasi Manusia. Aktualisasi demokrasi pada kehidupan berbangsa dan bernegara berdampak adanya perubahan paradigma kepemimpinan yaitu pergeseran dasar-dasar pola legitimasi kepemimpinan yaitu pemimpin harus mempertanggungjawabkan kekuasaannya kepada rakyat yang memilihnya terutama dalam hal memberikan rasa aman dan kesejahteraannya.

Kepemimpinan nasional akhir-akhir ini sedang di uji dengan permasalahan yang sangat komplek dan sistemik yang menyangkut kredibilitas suatu Negara yang menuntut penyeleaian secara seksama. Sementara sistem politik yang selama ini di bangun di Indonesia sangat identik dan didominasi dengan tokoh pimpinan nasional tertentu sehingga memunculkan kecenderungan adanya pengkultusan terhadap seorang tokoh politik. Sikap mengkultuskan terhadap tokoh politik tertentu pada akhirnya akan mempersempit peluang terbukanya tokoh-tokoh pemimpin baru yang mempunyai kapasitas dan integritas yang baik. Pemimpin yang terpilih bukan karena pilihan rasional rakyatnya mempunyai resiko menjadi pemimpin otoriter yang justru kontradiktif dengan semangat nilai-nilai demokrasi.

Pemilu sebagai suatu instrumen dalam berdemokrasi di Indonesia, dalam penyelenggaraannya harus senantiasa didasarkan pada asas langsung, umum, rahasia, jujur dan adil sebagai konsekuensi atas terwujudnya suatu negara yang demokratis. Kualitas penyelenggaraan Pemilu akan sangat berpengaruh dalam menentukan nasib kepemimpinan Negara kedepan. Karena tolok ukur dari keberhasilan pemilu tidak hanya diukur tingkat partisipasi rakyat namun yang lebih penting adalah bahwa pemilu harus mampu menyajikan pemimpin-pemimpin yang mempunyai jiwa kepemimpinan, integritas tinggi dan independensi yang kuat sehingga mampu melaksanakan amanat reformasi. Jika pemilu yang berkualitas dapat terselenggara dengan baik tentunya krisis kepemimpinan bangsa ini akan terpecahkan.