Kepemimpinan berasal dari kata pimpin yang
memuat dua hal pokok yaitu: pemimpin sebagai subjek dan yang dipimpin sebagai
objek. Kata pimpin mengandung pengertian mengarahkan, membina atau mengatur,
menuntun dan juga menunjukkan ataupun mempengaruhi. Pemimpin mempunyai tanggung
jawab baik secara fisik maupun spiritual terhadap keberhasilan aktivitas kerja
dari yang dipimpin, sehingga menjadi pemimpin itu tidak mudah dan tidak akan
setiap orang mempunyai kesamaan di dalam menjalankan ke-pemimpinannya.
Kepemimpinan hanya dapat dilaksanakan oleh seorang pemimpin. Seorang pemimpin adalah seseorang yang mempunyai keahlian memimpin, mempunyai kemampuan mempengaruhi pendirian/pendapat orang atau sekelompok orang tanpa menanyakan alasan-alasannya. Seorang pemimpin adalah seseorang yang aktif membuat rencana-rencana, mengkoordinasi, melakukan percobaan dan memimpin pekerjaan untuk mencapai tujuan bersama-sama. Salah satu Definisi tentang kepemimpinan adalah suatu proses yang mempengaruhi aktifitas kelompok yang diatur untuk mencapai tujuan bersama (Rauch & Behling, 1984, 46).
Kepemimpinan hanya dapat dilaksanakan oleh seorang pemimpin. Seorang pemimpin adalah seseorang yang mempunyai keahlian memimpin, mempunyai kemampuan mempengaruhi pendirian/pendapat orang atau sekelompok orang tanpa menanyakan alasan-alasannya. Seorang pemimpin adalah seseorang yang aktif membuat rencana-rencana, mengkoordinasi, melakukan percobaan dan memimpin pekerjaan untuk mencapai tujuan bersama-sama. Salah satu Definisi tentang kepemimpinan adalah suatu proses yang mempengaruhi aktifitas kelompok yang diatur untuk mencapai tujuan bersama (Rauch & Behling, 1984, 46).
Saya
menilai kemampuan kepemimpinan saya di angka 90 dikarenakan adanya
pengalaman-pengalaman dalam berbagai organisasi baik organisasi social maupun
organisasi bisnis. Disamping kemampuan yang saya peroleh melalui pengalaman
berorganisasi; kemampuan kepemimpinan saya juga berasal dari pelajaran teoritik
dari bangku perkuliahan maupun berasal dari diklat-diklat kepemimpinan organisasi.
Selama berorganisasi baik di organisasi social maupun bisnis, saya beberapa
kali dipercaya oleh komunitas organisasi menjadi pemimpin (ketua Umum).
Kepercayaan dari anggota komunitas organisasi tersebut tentunya bukan sesuatu
yang mudah, artinya seseorang memilih pemimpin pasti mempunyai pertimbangan
rasional, dan bagi seseorang yang dipilih menjadi pemimpin tentunya adalah
orang-orang yang mempunyai prestasi dan kemampuan dalam kepemimpinan.
Berdasarkan beberapa pengalaman kepemimpinan tersebut maka saya berpendapat
bahwa saya mempunyai kemampuan kepemimpinan pada angka 90.
Beberapa
Pengalaman dan Bukti tentang kemampuan kepemimpinan dapat saya sampaikan
beberapa contoh diantaranya: Pada tahun 2001-2002 saya menjadi Ketua Umum
Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Malang Komisariat Mulla Shadra
Universitas Islam Malang yang ke I. Sebagai Ketua Umum yang Ke I tentunya
dihadapkan pada berbagai permasalahan internal organisasi. Hal yang paling
rumit adalah bagaimana caranya bisa melakukan konsolidasi kepengurusan dan
pengkaderan. Sebagai komisariat yang baru juga dihadapkan pada permasalahan
Sumber Daya manusia yang tidak memadai karena banyak anggota komisariat yang
pasif (tidak aktif) maupun semangat berorganisasi yang lemah. Sebagai seorang
pemimpin maka langkah awal yang harus saya lakukan adalah melakukan pemetaan
guna identifikasi potensi dan masalah menggunakan pisau analisa SWAT yaitu metode perencanaan
strategis yang digunakan untuk mengevaluasi kekuatan (strengths),
kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities), dan ancaman (threats)
dalam suatu organisasi. Dengan berdasarkan identifikasi SWAT tersebut maka
dapat dirumuskan langkah-langkah strategis guna mencapai tujuan organisasi.
Permasalahan yang berupa ancaman yaitu masalah keaktifan pengurus dan anggota,
sedangkan peluang atau potensi yang ada yaitu organisasi secara data anggota
mempunyai banyak anggota yang masih berpotensi untuk aktif kembali. Keputusan
yang saya ambil adalah saya harus melakukan upaya-upaya agar pengurus dan
anggota bersedia aktif kembali. Pada konteks ini maka saya harus menggunakan
gaya kepemimpinan yang efektif dan diterima umum. Maka saya terapkan gaya
kepemimpinan partisipatif atau populistik yaitu gaya kepemimpinan dengan cara
membaur dengan anggota organisasi dan hadir ditengah-tengahnya. Metode yang
saya gunakan adalah metode blusukan atau berkunjung ke rumah atau kost-kostan
pengurus maupun anggota dan menciptakan sebuah keakraban sambil mempengaruhi
yang bersangkutan dengan tujuan organisasi. Dalam konteks pengambilan keputusan
organisasi saya selalu mengedepankan prinsip musyawarah untuk mufakat.
Berdasarkan pengalaman kepemimpinan Di organisasi Himpunan Mahasiswa Islam
(HMI) ini maka substansi kapasitas seorang pemimpin sudah terbukti yaitu: saya
mampu mempengaruhi orang lain dan menggerakannya ke arah tujuan organisasi.
Pengalaman
atau bukti kapasitas kepemimpinan saya adalah terkait dengan pekerjaan saya
sebagai Tenaga Pendamping Masyarakat (TPM) atau konsultan program pemberdayaan
masyarakat, dimana pekerjaan konsultan pemberdayaan adalah pekerjaan yang
mengharuskan berada ditengah-tengah masyarakat dan hidup bersama komunitas
masyarakat dan harus mampu transformasi pengetahuan dan kesadaran agar
melakukan perubahan pola pikir dan pola laku. Ketidakberdayaan masyarakat pada
umumnya disebabkan oleh pola pikir yang
salah sehingga tidak mampu mengetahui potensi dan masalahnya. Dalam bahasa Freire,
dehumanisasi berarti keadaan dimana seseorang kurang dari manusia atau tidak lagi manusia (Freire
dalam Naomi,1998; 434) yang terjadi sebagai bentuk ungkapan nyata dari proses
alienasi dan dominasi karena eksistensi seorang individu menjadi kabur dan
hilang disebabkan sempitnya pola pikir (Freire, 2000; 188). Sebagai seorang konsultan pemberdayaan masyarakat
tentunya kemampuan kepemimpinan merupakan kemampuan wajib dalam profesinya
karena harus mampu mengakomodir semua kepentingan unsur-unsur masyarakat dan harus
mempengaruhi tindakan yang berkepentingan menjadi sebuah kekuatan yang satu
arah.